Lo Anak Tongkrongan High Maintenance?
Lo pernah nggak, pas nongkrong tiba-tiba ngerasa kayak, “Ini nongkrong apa runway fashion show?”? Kalau iya, bisa jadi lo lagi main di lingkaran tongkrongan yang bisa dibilang ‘high maintenance’. Gue bakal ajak lo nge-gali maksudnya nongkrong high maintenance itu apa, sambil lo bisa cermin diri apakah termasuk anggota klub eksklusif ini.
1. Pilihan Tempat Bikin Mikir Dua atau Tiga Kali
Buat mereka, nongkrong harus di tempat yang aesthetic, Instagrammable, minimal ada neon sign biru muda di dinding, atau kursi sofa beludru yang adem matanya. Kalau lo disuruh nongkrong di warkop kampung, kemungkinan besar lo akan jawab, “Kayaknya gue skip dulu deh, bro.” Nah, kalau itu kebiasaan lo, bisa dimaklumi lo punya selera tinggi—tapi hati-hati jangan bikin teman lo malas ngajak.
2. Outfit Top Tier Demi Pencitraan
- Mesti pakai brand tertentu, kalau bukan itu rasanya kayak pakai baju bekas pacar mantan.
- Proses skincare? Lo udah siapin face mask, serum, dan eye cream sebelum nongkrong.
- Kalo lo datang ke tongkrongan, harus ada highlight di Instagram—karena, ya, kalau enggak ada dokumentasinya, artinya nggak pernah terjadi.
Semua itu sah-sah saja selama lo enjoy. Hanya saja, kalau setiap nongkrong lo lebih sibuk milih angle selfie ketimbang ngobrol sama teman, mungkin lingkaran lo sudah kena label “high maintenance”.
3. Menu Wajib Eksklusif, Harga Gak Jadi Masalah Lah!
- Lo cuma minum kopi single origin dari roaster tertentu, bukan kopi sachet yang cuma tiga ribu itu.
- Kalau nongkrong, check menu dulu; kalau harganya di bawah 40K untuk satu gelas minuman, lo nganggep itu “murahan”.
- Es kopi susu kekinian dengan whipped cream kelapa atau gula aren lokal? Itu wajib.
Artinya, lo lebih peduli soal “experience” di luar rasa, dan nggak keberatan bayar lebih demi vibe yang Instagrammable. Masalahnya, kalau satu atau dua teman ajak nyoba tempat yang lebih murah, lo bisa saja langsung mikir, “Ah, mending gue di rumah aja.” Inilah yang sering bikin teman sebel karena merasa dibatasi pilihan tempat nongkrong.
4. Tagihan Datang, Kasih Sinyal “Split Bill Bro!”
- Seseorang pesan satu brownie, satu minum, tapi selalu ngerasa “gue bawa vibes” sehingga nggak mau patungan.
- Atau, lo sendiri bilang, “Gue cuma pesan this and that, bro. Ntar lo bayarin saja.”
- Ada juga yang sambil ngeliatin menu: “Ini mahal amat? Masa bayar 50K per gelas?” sejauh itu, orang jadi martir ala-ala.
Kalau setiap terima tagihan lo langsung ngitung-ngitung, besoknya lo bisa dianggap rewel atau pelit. Sekali dua kali santai aja, tapi kalau itu ritual setiap nongkrong? Bisa dipastikan lingkaran tongkrongan lo berlabel super high maintenance.
5. Foto Selfie atau Video Wajib!
- Duduk di satu sudut demi cahaya matahari di sore hari.
- Rekam video dari empat angle beda sebelum makan seporsi dessert.
- Edit dan upload langsung sebelum lo sempat bilang, “Assalamualaikum.”
Gue nggak bilang itu buruk—nggak sama sekali. Tapi kalau momen nongkrong jadi ajang produksi konten, lo mungkin kehilangan esensi “ngumpul santai”, dan ini jadi ciri khas tongkrongan high maintenance.
6. Standar Sosial Super Tinggi
Anak tongkrongan high maintenance kadang punya checklist tersendiri, misalnya:
- Harus paham topik STEM, bisa debat ringan tentang ekonomi, atau minimal ngerti meme yang lagi viral.
- Kalau ada yang bawa topik ‘gak kekinian’, pasti lo kasih komentar, “Wkwk, masih denger itu?”
- Lo juga ogah nongkrong sama orang yang beda gaya hidup, misalnya yang lebih santai dan nggak peduli pakai gadget mewah.
Itu bikin lingkaran lo sempit, hanya segelintir orang yang lolos filtering ketat. Sekali lagi, sah-sah saja punya standar, tapi terlalu kaku malah bikin lo kehilangan kesempatan bertemu orang dengan cerita dan perspektif baru.
Arti-nya Nongkrong “High Maintenance”
Kalau kita mundur selangkah, nongkrong high maintenance ini sebenarnya cerminan bagaimana kita berinteraksi di dunia yang serba cepat dan penuh citra. Biar kata “high maintenance” terkesan negatif, tapi di sisi lain menunjukkan:
- Nilai Estetika yang Tinggi: Anak tongkrongan ini menghargai pengalaman sensorial—mulai dari interior cafe, pencahayaan, sampai packaging makanan. Mereka percaya momen nongkrong harus menjadi kenangan estetik yang bisa dibagikan.
- Standar Kehidupan Modern: Standar makanan, tempat, dan gaya hidup mereka kadang jadi simbol status. Di sini, nongkrong bukan cuma soal ngobrol, tapi bagian dari persoalan identitas sosial dan personal branding.
- Pencarian Komunitas Sejajar: Jadi, nongkrong high maintenance bisa menjadi cara buat ketemu orang yang sepemikiran, sama-sama paham tren, dan menghargai detail. Mereka jadi komunitas yang kompak karena selera dan gaya hidupnya sama.
- Ekspresi Kreatif: Dokumentasi setiap momen—dari foto flatlay makanan sampai video unboxing—adalah bentuk kreativitas. Bagi mereka, setiap nongkrong adalah konten potensial yang bisa diekspresikan di media sosial.
Singkatnya, nongkrong high maintenance itu bukan sekadar pamer anggaran, tapi juga soal merayakan estetika, kreativitas, dan identitas. Yang penting, jangan bikin diri lo malah stres atau teman lo ilfeel karena terlalu kaku memaksakan standar. Lo boleh banget punya selera tinggi, asalkan tetap enjoy, terbuka sama variasi pengalaman, dan yang paling penting: tetap “gue-lo” banget dalam setiap momen nongkrong.
Okelah Lo Nongkrong High Maintenance atau Tidak?
Jadi, sebelum lo nempel label “high maintenance” ke diri lo sendiri (atau teman), coba cek:
- Apakah lo bisa santai nongkrong di tempat nongkrong biasa tanpa drama?
- Seberapa fleksibel lo menerima perbedaan selera teman?
- Apakah nongkrong buat lo momen meet-up santai, atau semacam fashion show mini?
Kalau kebanyakan jawabannya “gue bisa kok asalkan…” berarti lo masih punya ruang buat jadi lebih fleksibel. Dan kalau lo justru ngerasa jadi diri sendiri ketika nongkrong dengan standar tinggi? Congrats, mungkin lo memang tipe “high maintenance” yang punya nilai estetika tinggi—asal tetap asyik dan nggak bikin orang lain kapok ngundang lo buat nongkrong lagi.