Popo Mangun: Berkomunikasi Melalui Seni Visual - MLDSPOT
  • Profile
  • Popo Mangun: Berkomunikasi Melalui Seni Visual

Popo Mangun: Berkomunikasi Melalui Seni Visual

Wed, 22 February 2017

Aliran seni lukis Art Deco mungkin masih belum familiar di kuping lo. Tapi, salah satu seniman asal Tangerang Selatan, Popo Mangun, memilih aliran seni lukis ini untuk mempresentasikan karya-karyanya. Art Deco lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II. Popo sebenarnya nggak punya latar belakang kesenian, namun, berangkat dari kecintaannya pada bidang seni, Ia mantap untuk menggeluti dunia seni lukis.

 

Gambar lo ini kan juga agak unik nih, gambar yang lo bikin termasuk dalam aliran seni lukis apa sih? Dan, kenapa lo milih untuk memperdalam aliran itu dari sekian banyak aliran seni lukis?

Kalau dibilang alirannya sebenarnya lebih ke aliran Art Deco, dan sebenarnya gue juga baru tau aliran itu dari teman gue yang memerhatikan gitu. Gue emang bukan dari latar belakang kesenian ya. Gue dari UIN Jakarta, komunikasi dan nggak ada latar belakang kesenian, sampai teman gue sendiri yang ngeliat, “Oh Po, ternyata gambar lo masuk ke dalam seni dekoratif”, sebenarnya basic-nya dari ilustrasi, dari ilustrasi ternyata ada turunannya lagi. Prosesnya sebenarnya lebih ke meng-hybrid objek, gue ngeliat banyak objek lalu gue gabungkan jadi satu gambar, di situ kelebihannya adalah dalam satu gambar ternyata memiliki banyak arti, so far, orang bisa ngeliat gambar gue tuh bisa menginterpretasikannya macam-macam, “Oh, nih ternyata gambarnya mirip ini ya”, dan itu sah aja, itu wajar-wajar aja karena ternyata cara ini pernah dipakai Eko Nugroho, salah satu seniman dari Jogja, itu salah satu inspired gue juga untuk buat, oh, ternyata merespon objek, merespon lingkungan sekitar lo dengan menggunakan gambar dengan cara hybrid itu jadi banyak makna, orang jadi bisa memerhatikan lebih lama ketika melihat gambar lo, beda dengan kayak realis yang sedikit menyerupai gambar, potrait muka pasti akan digambar dengan portrait muka. Di gue, bisa aja itu portrait muka, tapi, bisa jadi kayak misalkan bentuknya rumah, atau apa segala macam, karena gue coba mengkomunikasikan banyak pesan tapi hanya dalam satu gambar.

 

Lo kan melukis dan menggambar nih. Ada style sendiri nggak yang membedakan karya lo sama orang lain?

Gue nggak tahu seberapa banyak orang yang menggeluti aliran Art Deco ini, gambar yang gue tekunin. Cuma mungkin orang bisa melihat dari segi warna, dari segi pola yang diangkat sama gue, jadi apa ya? Ciri khas dan style-nya sendiri sih sebenarnya balik lagi ke orang yang ngeliat ya, tapi, kalau gue pribadi gue suka dengan warna-warna yang sedikit psychedelic, dan beberapa pattern atau bahkan pola-pola yang gue terapkan sih ada beberapa terinspirasi dari tribal, dari astec, dari batik juga, dan itu gue terapkan ke beberapa objek yang bentuknya kayak mata dan tangan sih. Lebih kayak gitu sih. Semakin lo buat kayak gitu terus, semua orang yang ngeliat jadi oh, yang objeknya seperti ini ya Popo. Sebenarnya kayak karakteristik kan dibentuk dari konsisten ya, orang mungkin ngeliat gue konsistennya di objek itu dan warna itu.

 

Oke, lo bilang menyatukan pesan-pesan dalam satu gambar. Pesan apa sih yang mau lo sampaikan?

Hal-hal yang sebenarnya lebih ke ringan sih. Belakangan, gue banyak banget pakai objek tangan sama mata, dan gue baru sadar setahun belakangan kemarin. Pesannya simple sih, lebih ke apa yang lo liat, lo kerjakan. Dan, itu ternyata berpengaruh ke semua, masudnya semua orang melakukan hal yang sama seperti gue juga sih. Kayak ketika lo makan, lo menggunakan tangan, lo ngeliat menu makanan, lo milih ini segala macam, lo ambil itu dan lo makan, se-simple itu. Jadi, kan dulu ada istilahnya dari mata turun ke hati, dan apa yang gue lihat gue kerjakan, seperti kerjaan kantor gue juga kayak gitu, “Oke, Po. Lo ada tugas seperti ini,” ya, gue lihat, gue serap, lalu gue kerjakan. Se-simple itu sih, lebih ke apa ya? Kerja sih, mengerjakan, making something. Message-nya se-simple itu sih sebenarnya.

 

 

Oke, terus ada nggak sih moment tertentu yang menjadi titik balik seorang Popo yang di mana moment itu benar-benar meyakinkan diri lo bahwa gambar itu emang pilihan yang tepat buat lo?

Ada beberapa yang appreciate gambar gue, misalnya ketika diajak dengan beberapa project gambar, diajak untuk, “Po, buat ini yuk!” “Po, buat itu yuk!”, wow, ini ternyata orangnya memerhatikan, ternyata gue ter-appreciate dengan gambar seperti ini tahu-tahu diajak untuk buat project. Menurut gue itu “It’s time”, buat gue kayak kalau misalkan gue masih main-main, kalau misalkan gue masih sesantai itu, mungkin orang yang ngajak gue kolaborasi atau orang itu klien gue akan menjadi kecewa. Di situ gue kayak ngerasa ini kayaknya harus pelan-pelan, sedikit demi sedikit harus lebih rapih prosesnya. Gue sebenarnya juga belajar dari teman gue gitu sih, “Po, kalau misalkan lo ada taken kontrak dengan orang lain sebisa mungkin ada ini, ada itu, ada MOU, ada pra produksi sampai produksi, belajar in voice, apa segala macam”, dari situ gue ngerasa ini waktunya untuk serius ketika lo merasa ter-appreciate dengan apa yang lo lakukan. Ya, itu moment buat gue untuk lebih serius mengerjakannya.

 

Oke, kepuasan yang lo rasain itu seperti apa sih ketika lo bisa bekerja sesuai dengan hobi lo?

Puasnya kayak apa ya? Lo tiba-tiba bangun tidur, terus lo jadi kaya. Rasanya kayak gitu. gue tahu orang yang suka dengan gambar gue tuh bisa diitung jari, artinya siapa sih yang pengen model gambar kayak gini? Ini juga nggak jelas juga, dan baru sedikit orang yang tahu, oh ternyata ini lebih ke Art Deco. Pasar yang melihat pun juga, “Ini apaan sih?” gitu kan. Bahkan ketika lo mencari pasar yang bisa diterima orang, ya lo bisa aja gambar realis atau seni lukis yang mungkin ada di pinggir jalan yang, “Oke nih, gue gambarin muka lo”, kalau mirip ya orang itu pasti akan senang banget. Gue nggak bisa mirip, makanya orang yang bisa terima misalkan suka silahkan, kalau nggak suka nggak apa-apa.

 

Oke, di akun Instagram, lo juga nyantumin “Chef of Createco.id dan Morning Drawing”. Itu tuh apa sih? Bisa dijelasin nggak?

Createco itu kayak alternative gue ketika gue boring mengerjakan karya personal gue, gue coba ngalihin buat project lain. Basically, Createco itu kayak wadah membuat acara sih, semacam event orginizer yang sifatnya balik lagi dalam bidang gambar juga ujung-ujungnya. Tapi, mencakup sedikit lebih luas juga sih, artinya menggambar dengan musik, menggambar dengan seni tari. Gue mencoba untuk mengkontemporerkan menggambar itu dan di situ gue jadi banyak ketemu orang yang bisa gue kolaborasiin, misalkan kayak ada salah satu musisi yang gue rasa nih dia keren banget, kalau misalnya gue nggak punya alasan gue punya project ini mungkin gue nggak bisa kenalan sama dia. Createco semacam jembatan supaya gue bisa kenal sama orang-orang yang lebih luas di ruang lingkup menggambar itu. Beda dengan Morning Drawing, Morning Drawing memang gue tujukan buat orang-orang yang sekiranya gue tahu dia punya passion menggambar, tapi, dia nggak tahu gimana cara untuk meng-organize dirinya sendiri. Morning Drawing mencoba buat sedikit lebih ada edukasinya, makanya gue tarik beberapa orang-orang yang bergerak di Morning Drawing adalah orang-orang yang latar belakangnya seni, karena gue juga pengen belajar sama mereka. Sebenarnya, kayak ke cara untuk itu sih, jadi sharing. Mungkin perbedaannya seperti itu sih, Createco lebih kayak motor untuk menggerakkan si Morning Drawing, karena Morning Drawing berangkat dari komunitas, berangkat dari orang-orang yang suka, akhirnya kita ngumpul buat movement, movement-nya itu tadi menggerakkan antara nggak cuma menggambar lagi, artinya kayak menyeimbangkan antara bekerja dan berkarya. Sebelum gue jadi seorang karyawan, sebelum gue jadi seorang mahasiswa misalkan, ya lo sempatkan sedikit untuk bisa berkarya untuk diri lo sendiri. Karyanya apa ya? Ya, karyanya gambar.

 

Oke, mungkin lo ada tips atau saran untuk generasi-generasi muda lainnya kayak lo ini supaya mereka tetap konsisten dengan apa yang mereka suka dan nggak nyerah untuk tetap bertahan di ranah yang mereka suka?

Balik lagi ke tanggung jawab ya, ketika lo suka menggambar tapi lo harus dituntut untuk mendapatkan income lebih juga, artinya memang nggak bisa langsung survive. Gue nggak bisa untuk melepas pekerjaan gue yang sekarang untuk bisa survive hanya di dibidang gambar gitu loh. Bukan berarti gue nggak yakin sama apa yang gue kerjakan di bidang gambar, tapi gue butuh motor, artinya gue beli alat gambar dari gaji kantor gue gitu loh istilahnya. Ya, mungkin untuk teman-teman yang ingin melakukan hal itu juga bisa tanggung jawab juga. Gue nggak melarang lo harus fokus banget ke situ, fokus bagus banget artinya lo sepenuh hati mengerjakannya, tapi, kalau emang ternyata belum merasa yakin untuk bisa survive ya gue rasa coba hal-hal yang lain juga, nggak salah kok, nanti akan kesaring dengan sendirinya, nanti akan ada seleksi alam ketika semuanya lo lakukan, ngeband juga, gambar juga, lo jadi karyawan juga. Gue dulu banyak banget yang gue lakuin, sampai orang ngecap gue, “Lo mau jadi apa sih, Po? Fotografer iya, motret juga, video juga, gambar juga, nge-design juga lo. Mau jadi apaan?” ya, gue pengen jadi semuanya, gue gituin, ego gue gitu kan. Tapi, gue balikin lagi ke mereka nanti juga akan tersaring dengan sendirinya sih, orang akan ngeliat kayak gimana, yang nilai kita kan bukan diri kita sendiri, orang lain. Mungkin saat ini orang suka sama gue ya di bidang menggambarnya, orang kantor gue sukanya dengan design gue. Yaudah, gue memposisikan dengan apa yang gue suka untuk ruang lingkup itu, artinya mereka punya pasarnya sendiri, mereka punya tempatnya sendiri. Gue nge-design untuk kantor gue, gue menggambar untuk gue dan ruang lingkup orang-orang yang suka dengan gambar gue, gue ngeband untuk sekiranya mungkin gue lagi boring dengan design gambar gue, ya gue bisa lari ke ngeband gitu loh. Artinya, bukan sekadar pelarian tapi gue juga pengen serius di situ, nanti akan kesaring dengan sendirinya sih. Pesannya, lakuin aja semuanya apa yang lo suka, di situ nanti bisa ketahuan nyamannya di mana, yang nggak nyaman ya lo tinggalin. Orang bisa appreciate itu ketika lo bisa nyaman di situ dan lo lakuin terus kan jadinya kan. Kayak gitu sih simple-nya.

 

Selain itu, ada tips nggak untuk anak-anak muda yang baru mulai gambar tapi belum tahu jati dirinya atau style-nya seperti apa?

Lo lihat aja banyak referensi sampai akhirnya lo coba gambar semuanya dan lo bisanya itu ya lakuin itu gitu loh. Gue dulu macam-macam sebelum akhirnya gue gambar kayak gini, gue nyoba realis, ternyata nggak mirip, yaudah, nggak jadi. Gue coba gambar dengan yang lain, oh, ternyata di luar sana ada macam-macam kayak Pablo Picaso, Basquiat, mereka nggak mirip juga, tapi, kok bisa dikenal orang? Kok bisa disukai sama orang? Yaudah, artinya lakuin apa yang lo bisa, apa yang lo suka, dari situ nanti karakternya muncul sih. Kayak gitu sih.

Mods Culture: Gaya Hidup yang Menggabungkan Vespa Klasik dan Musik

Tue, 23 February 2021
Vespa Klasik

Semua orang punya referensinya masing-masing dalam berpakaian. Ada yang lebih suka berpenampilan dengan style sesuai kenyamanannya, ada yang sukanya up-to-date dengan fashion terkini, ada juga yang punya referensi dari band atau genre musik yang diminati.

Beberapa waktu lalu, MLDSPOT sempat membahas gimana band grunge mempengaruhi cara berpakaian yang sampai sekarang juga masih banyak diminati. Kali ini, MLDSPOT bakal ngebahas tentang gaya hidup yang juga mempengaruhi gaya berpakaian di dekade 60-an yang identik dengan musik rock & roll saat itu dan jadi outfit yang identik dengan vespa klasik – yang dikenal dengan Mods Culture.

Dari musik, kok bisa jadi vespa klasik – pasti lo bertanya-tanya, kan? Mengingat ternyata secara nggak sadar ternyata gaya hidup dan gaya berpakaian ini masih banyak diminati, sepertinya informasi ini penting untuk lo ketahui. Mending langsung aja simak selengkapnya mengenai mods culture di bawah ini ya, bro!

Gaya Berpakaian ‘Modern’ Saat itu

Vespa Klasik

Credit image – John’s Medley

Gaya ini awal mulanya muncul di London sekitar tahun 1960-an. Dimana gaya hidup mods ini berasal dari kata modernis. Gaya ini awalnya menjadi sebuah gaya fashion remaja saat itu yang mencoba untuk mematahkan tradisi berpakaian yang telah diwariskan.

Gaya berpakaian yang dikembangkan oleh para remaja kelas pekerja yang berpaku pada musik yang sedang diminati saat itu – yaitu rock & roll. Berdasarkan musik ini akhrinya para remaja menggunakan pakaian dengan warna solid, cerah, dan kontras.

Adaptasi berpakaian dari gaya musik ini berakar dari kelompok kecil di era 1950-an dimana modernisasi mulai muncul. Kelompok ini identik dengan para anggotanya yang mendengarkan musik jazz modern. Gaya inipun disambut oleh anak muda saat itu hingga berubah menjadi gaya hidup.

Dari Gaya Hidup dari Musik, Pakaian, sampai Vespa Klasik

Bermula dari gaya berpakaian, mods culture-pun berubah menjadi gaya hidup yang dilakukan oleh kaum-kaum muda saat itu. Dari berpakaian, akhirnya mods culture menjadi punya pasar dan penggemarnya sendiri. Sejak kemunculannya, akhrinya para kelompok penganut mods culture ini sering mengadakan pertemuan di coffee shop.

Nggak cuma berpakaian dan gaya musik aja, ‘anak tongkrongan’ dengan gaya mods ini juga identik dengan menggunakan vespa klasik. Seiring berjalannya waktu, penganut mods culture menjadikan kepemilikan vespa klasik sebagai subkultur yang berbeda.

Vespa klasik menjadi pendukung dari gaya hidup ini sendiri sehingga menjadi lebih kompleks. Mods dianggap sebagai gaya hidup kaum urban yang lebih mementingkan pergaulan dibandingkan hal-hal lain dihidupnya. Dengan kehadiran vespa klasik, gaya hidup mods ini semakin merajalela.

Akhirnya, gaya hidup inipun nggak hanya dianut oleh para remaja kelas pekerja aja. Subkultur mods ini menjadi komersil secara nggak langsung tanpa harus dikomersilkan – karena dengan banyaknya penganut dari mods, akhirnya menjadi gaya hidup ini nggak hanya untuk para pekerja saja.

Mods Culture di Indonesia

Vespa Klasik

Credit image – Jakarta Mods Mayday

Di Indonesia sendiri, subkultur mods ini juga digemari – bahkan hingga saat ini. Salah satu penanda hadirnya mods culture di Indonesia adalah awal 1960-an dimana vespa klasik dan musik menjadi satu kesatuan bagi kaum muda mudi saat ini.

Nggak jauh berbeda dari London, di Indonesia sendiri para penganut mods culture ini juga mengikuti tren dari musik di dunia barat sana – The Beatles memiliki peran yang cukup banyak pada perkembangan subkultur mods di Indonesia.

Kepemilikan vespa klasiklah yang sedikit membedakan mods culture di Indonesia dengan di dunia barat sana. Karena di Indonesia, pemilik vespa klasik nggak hanya dimiliki oleh kaum pekerja ataupun kelas menengah bawah. Tren mods ini membuat vespa klasik menjadi lebih hidup.

Di Indonesia sendiri, para penganut mods ini berkumpul setiap perayaan Mayday dengan mengadakan Mods Mayday. Awalnya, kegiatan ini ahnya dilakukan oleh komunitas Skinhead Warriors dari mulut ke mulut, namun semakin berjalannya waktu, kegiatan ini menjadi rutinitas yang dilakukan pada bulan Mei setiap tahunnya.

Menarik banget subkultur tentang mods ini ya, bro – dari musik, gaya berpakaian, sampai ke vespa klasik. Mungkin kalau lo pengguna vespa udah nggak asing lagi untuk riding dengan komunitas mods lo tanpa lo sadari.

Jadi, apakah lo termasuk dalam pengikut mods culture ini? Atau justru menjadi tertarik untuk mengikutinya?

 

Feature image – John’s Medley