Semoga Sir Dandy Terus Menghibur

Wed, 12 February 2020
Sir Dandy menggunakan kacamata hitam dengan mic berada di sebelahnya.

Sebagai seorang seniman lintas disiplin, Sir Dandy dikenal punya reputasi yang bagus. Irisan antara seni lukis dan musik begitu kental. Yang paling kentara adalah kemampuannya menciptakan hiburan yang punya efek berpikir di belakang. Di balik kejenakaan yang ia hadirkan, sering kali pendengar atau penikmat lukisannya dibawa bertualang jauh ke wilayah yang kadang miris.

Di musik, ia lebih dikenal terlebih dahulu sebagai vokalis Teenage Death Star, band ugal-ugalan yang terbagi di dua garis geografi, Jakarta dan Bandung. Band itu diisi oleh para pelaku musik legendaris yang telah membuat banyak hal bersama-sama.

Proyek solonya, dengan nama Sir Dandy, punya wajah yang beda. Tahun 2011, beberapa tahun setelah hijrah ke Jakarta dari Bandung, debut album “Lesson #1” dirilis. Ketika mulai menulis lagunya sendiri, ia baru bisa memainkan gitar beberapa bulan. “Gue tuh nggak bisa bawain lagu orang. Solusinya bikin lagu sendiri,” katanya.

Lesson #1 kemudian diisi oleh lagu-lagu yang ia tulis berdasarkan pengalamannya masuk ke Jakarta. Beberapa di antaranya kemudian jadi ikonik seperti ‘Jakarta Motor City’ atau anthem kocak ‘Anggur Merah’. Tahun berlalu, Sir Dandy pun sempat tersesat di kesibukan lain dan meninggalkan musik. Kembalinya perlu bertahun-tahun. Di 2019 yang lalu, ia merilis EP baru berjudul “Intermediate. Seiring perkembangan zaman, isu-isu yang ia tampilkan pun berkembang. Salah satunya adalah single ‘Mudah-Mudahan Ramai Terus (MRT) yang menampilkan komedian Soleh Solihun.

Sir Dandy & Ryo Wicaksono sedang mengobrol dengan mengangkat gelas

Perjalanan Sir Dandy makin menarik dan belakangan, ia jadi lebih sering tampil dengan format band pendukung. Salah satunya pada sesi MLDPODCAST Season 1 Episode 2.

Sir Dandy, bisa jadi memang jelmaan dari karyanya; pelajaran yang terus bergerak. Dari kisahnya, pilihan menjadi seniman bisa dihidupi dan dijalani dengan suka hati. Hari ini, bisa jadi musik yang sedang jadi corong utamanya. Lain kali, bisa jadi ia kembali ke lukisan atau bisnis interior yang juga kerap kali dijalaninya.

“Kalo diibaratkan, hidup gue tuh kanvas polos. Nah, cabang ini tuh warnanya. Jadi ngelukis tuh warna merahnya, musik itu warna birunya, interior tuh warna hijaunya, jadi semuanya ngewarnain kanvas gue yang kosong,” katanya berfilosofis.

Semoga ia panjang umur dan terus menghibur. Mari diamini.

Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.