MLDJAZZPROJECT Season 4 Yang Terus Bertumbuh

Mon, 30 March 2020
Cerita menarik tentang MLD Jazz Project, seolah terus berlanjut

Cerita menarik tentang MLDJAZZPROJECT Season 4, seolah terus berlanjut. Generasi keempat yang beranggotakan Puspallia Panggabean (vokal), Yosua Sondakh (gitar), Hafiz Aga (bass), Anggi Harahap (saxophone), Noah Revivalin (piano) dan Timoti Hutagalung (drum), terus bermain bersama dan siap lepas landas.

Setelah menjalani pengalaman main ke banyak festival, memproduksi karya dan kemudian menyusun rencana masa depan dengan tur ke sejumlah kota, masing-masing anggotanya berbagi cerita tentang pandangan mereka akan MLDJAZZPROJECT Season 4, sebuah kontes musik yang memberi kesempatan untuk banyak musisi membawa karir mereka ke level yang lebih tinggi.

Di MLDPODCAST, mereka berbincang-bincang banyak dengan Reza Alqadri.

“Ikut kontes ini life changing banget sih. Ini kayak satu moment yang hanya terjadi sekali seumur hidup,” kata mereka.

Dalam konteks melihat kembali ke belakang, perjalanan masing-masing personil sebagai anggota MLDJAZZPROJECT Season 4, memang berkembang. Seperti sudah kita ketahui bersama, setelah memenangkan kontes ini, mereka dipersatukan dalam sebuah band dan diberi kesempatan untuk unjuk gigi di sejumlah festival. Setelah itu, mereka diberi ruang untuk menulis karya bersama dan memproduksi sebuah album musik. Tidak berhenti di situ, seharusnya, jika tidak ada krisis terkini, mereka menjalani perjalanan ke Jepang untuk melangsungkan tur di beberapa kota di sana.

Satu hal yang juga berkembang adalah chemistry antara masing-masing personil. Pengalaman jalan ke banyak tempat bersama-sama, memang sudah pasti akan membentuk hubungan yang lebih dalam antar masing-masing orang di dalamnya.

“Lebih penting di band tuh bukan soal ‘Oh, nih orang jago.’ Tapi lebih penting kita tahu orang itu ya sebagai manusia. Nggak sebagai musisi doang,” ujar mereka.

Tumbuh bersama, mungkin jadi istilah yang memang benar-benar terjadi dan bisa diaplikasikan dalam kasus mereka.

Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.