Merdeka Versi Dekat

Tue, 14 April 2020
Merdeka Versi Dekat

Jalan menjadi artis independen ternyata bukan sesuatu yang melulu menyenangkan. Seiring dengan kemerdekaan yang makin besar, tanggung jawab pada diri sendiri juga ternyata ikut-ikutan bertambah.

“Kalau ngomongin merdeka sih, terlalu merdeka. Sampai nggak ada batasan sama sekali,” buka Dekat.

Tiga orang personil Dekat, Tata, Kamga, dan Chevrina punya pengalaman unik sebagai musisi. Mereka bisa ada di dua kutub yang berbeda paham. Dulu bersama Tangga dan sekarang sebagai Dekat. Jika dulu diasuh oleh sebuah label dan ada banyak pihak yang melakukan sejumlah hal untuk mereka, maka dengan pilihan yang diambil dengan penuh kesadaran, sekarang semua harus dilakukan sendiri.

“Buat kita malah justru, nama kita yang kebetulan orang sudah tahu di masa lalu malah jadi bumerang buat band ini,” kata mereka ketika ditanya tentang pertimbangan lebih memilih bergabung dengan sebuah label atau menjadi artis independen.

Beban yang dipegang, sedikit banyak jadi tantangan ketika ketiganya mencoba perjalanan baru sebagai Dekat. Di MLDPODCAST, mereka berbincang dengan Reza Alqadri dan mengungkapkan banyak hal. Termasuk di dalamnya kenyataan bahwa pertarungan industri musik saat ini benar-benar keras.

Orang baru datang dan pergi dengan mudah. Siapapun bisa bikin karya dan dengan sendirinya, jumlah karya yang makin banyak itu, membuat persaingan untuk bisa didengar jadi lebih tangguh untuk ditaklukkan.

Mereka punya pendapat akan hal ini, “Good thingnya, semua punya shot. Apakah shotnya setara kekuatannya, tentu tidak. Pasar nggak pernah bisa adil. Kita sebagai pemusik harus terima kenyataan itu, nggak apa. Tapi at least, sekarang semua punya kesempatan untuk kedengeran.”

Jalan mereka pelan dan penuh perhitungan. Tapi, Dekat ada di sini untuk mengejar apa yang mereka rasa perlu dalam karir bermusiknya.

Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.