Jalan Mewujudkan Mimpi Panjang Dhira Bongs

Thu, 13 February 2020
Dhira Bongs bergaya menjulurkan lidah dan memejamkan mata

Dhira Bongs mungkin bisa dikenali lebih jauh lewat keputusannya untuk berani memilih musik sebagai jalan hidup. Setelah bertahun-tahun, ia masih di sini, terus berkarya dan menjadikan hasrat berkaryanya sebagai sebuah kenyataan.

Sejak tahun 2014, saat debut album penuhnya dirilis, ia terus bereksplorasi melahirkan karya. Kendati sebenarnya punya banyak godaan untuk mempertanyakan apakah pilihan menjadi seorang musisi itu benar adanya.

Babak penting datang tahun 2019 yang lalu, ketika ia mendapatkan kesempatan untuk melebarkan karya ke pasar yang lebih luas lewat peluang untuk tampil di South by Southwest Festival (SXSW). Di showcase festival paling besar di dunia itu, Dhira Bongs mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan publik baru sekaligus mencoba pendekatan baru dengan merekam karya di sana.

“Gue pengen seluruh dunia tahu lagu gue sih,” katanya dalam salah satu bagian MLDPODCAST Season 1 Episode 5 yang ia rekam. Kalimat itu menjelaskan obsesi panjang yang ingin ia capai.

Di perjalanan ke SXSW Festival tersebut, ia bekerja sama dengan sejumlah musisi asal Amerika Serikat yang memainkan peran sebagai musisi pendukung. Alasan visa yang rumit, membuatnya memutuskan untuk menggunakan jasa mereka ketimbang membawa tim musisi dari Indonesia. Dengan sendirinya pula, pengalamannya menjadi beda.

Eksplorasi yang model begini, sebenarnya makin membuat ia menarik. Tapi toh, ia menyadari bahwa ia masih punya banyak halaman untuk dibuka di dalam karirnya yang baru seumur jagung ini.

“Gue selalu nggak pengen bilang gue udah makan banyak asam garam. Karena pasti belum. Gue masih anak kemarin sore. Karena kalau gue mikir gitu, pasti gue nggak mau belajar lagi nantinya. Gue nggak mau cepet puas,” katanya lagi.

 

Dhira Bongs sedang mengobrol dengan host MLDPODCAST

Karya barunya, “Sungguh Terlalu”, dirilis akhir November 2019 yang lalu. Sebagai seorang musisi, bahan bakarnya banyak dan keinginan untuk tidak pernah berhenti belajar itu, seharusnya bisa menjadi modal yang bagus untuk tetap berkarya. Jangan heran, kalau di masa-masa yang akan datang, kita akan lebih sering mendengar nama Dhira Bongs. Karena memang, dengan kerja keras yang dilakukan, ia akan sampai ke titik yang pelan-pelan membuka peluangnya untuk mewujudkan keinginan yang tadi ia sebut.

 

Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.