Intip Kehidupan Sang Maestro Seni Rupa di Museum Affandi

Tenang, asri dan nyeni. Rasanya ketiga kata tersebut cukup menggambarkan perasaan ketika pertama kali menapakkan kaki di Museum Affandi. Setiap pengunjung akan disambut dengan pepohonan yang menjulang tinggi, yang membuat suasana menjadi asri. Ditambah dengan gemericik air sungai Gajahwong yang tak jauh dari museum, lo akan merasa santai dan tenang,  jauh dari pusat keramaian Kota Jogja.

Museum Affandi terletak di Jalan Laksda Adisucipto 167, Yogyakarta. Kompleks museum ini memiliki luas lahan 3.500 meter persegi dan terdiri dari bangunan museum, bangunan pelengkap, serta rumah tinggal Affandi beserta keluarganya. Pembangunan museum dilakukan secara bertahap, di mana arsitekturnya dibuat menyerupai pelepah daun pisang. Perancang museum bersejarah ini adalah Affandi Koesoema.

"Gaya bangunan museum ini memang cukup unik karena berbentuk seperti pelepah daun pisang. Bagi Affandi, daun pisang punya arti mendalam di hidupnya. Saat itu, ketika Affandi kecil, ia dan saudara-saudaranya terkena wabah cacar. Semua saudaranya meninggal, hanya ia yang bertahan hidup. Kala itu, ibunda Affandi menutup seluruh tubuh Affandi dengan pelepah daun pisang untuk menurunkan suhu badannya yang tinggi dan untuk menjaga agar cacar air di tubuhnya tidak menyebar ke bagian tubuh lain," tutur Hudan, pemandu wisata museum Affandi.

Selain galeri 1, galeri 2 juga dijadikan tempat untuk menyimpan koleksi karya lukis Affandi

Buat lo, Urbaners yang tertarik berkunjung, Museum Affandi buka setiap hari mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Tiket masuknya seharga Rp50.000, dimana lo akan mendapatkan minuman dan suvenir juga. Dengan menjelajahi 3 galeri, studio lukis, kafe, dan rumah tinggal, lo bisa membayangkan bagaimana napak tilas perjalanan karir Affandi di fase awal menjadi seorang seniman.

 

Sebelum terkenal seperti sekarang, ia bahkan nggak punya cukup uang untuk membeli peralatan dan bahan melukis. Agar tetap bisa melukis, Affandi melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari jadi guru menggambar sampai menjadi penjual tiket bioskop. Setelah fase-fase sulit tersebut, lo juga bisa melihat karya-karya bersejarah di masa keemasan Affandi sebagai seorang pelukis. Ia termasuk seniman yang sangat produktif membuat karya, bahkan di masa tua.

 

Menyusuri Ruang Galeri Lukisan dan Rumah Pribadi Affandi

Di ruang galeri 1 dan galeri 2 Museum Affandi, lo bisa menilik berbagai karya Affandi yang dirawat dengan baik sampai saat ini. Total karya Affandi yang masih ada berjumlah sekitar 300-an, sementara dalam hidupnya, Affandi diperkirakan telah menciptakan ribuan karya. Semua koleksi yang dipajang di Galeri 1&2 merupakan hak milik museum dan nggak diperjualbelikan, Urbaners.

Di galeri 1, digambarkan detail tentang perkembangan gaya melukis Affandi yang semula bergaya naturalis dan bertransformasi menjadi ekspresionis. Gaya naturalis sangat terlihat pada lukisan self-portrait yang jadi lukisan favorit Affandi dan mulai ia kerjakan sejak tahun 1938. Di ruangan ini, lo juga bisa melihat karya-karya Affandi yang masih menggunakan bahan dari karung goni dan sobekan kertas sebagai bahan lukisan. Hal ini jadi satu bukti bagaimana beratnya perjalanan Affandi ketika pertama kali merintis jalan sebagai seorang pelukis.

Seiring perkembangan waktu, Affandi mulai merubah gaya lukisan menjadi aliran ekspresionis. Hal ini nggak lepas dari perjalanan panjang yang dilakukannya ketika belajar melukis ke India dan melakukan pameran-pameran di Benua Eropa.

Masa keemasan Affandi terjadi pada tahun 1984, ketika pria asal Cirebon tersebut melukis Parangtritis At Night. Melalui lukisan, Affandi mencoba menampilkan sisi lain pantai Parangtritis, di mana pantai ini bisa terlihat begitu ganas dan liar, tapi juga bisa terlihat sangat indah.

Galeri 3 menyimpan koleksi karya lukis milik istri dan anak Affandi

Sementara itu, di galeri 3, ditampilkan karya-karya Maryati (istri Affandi), Kartika dan Rukmini (anak Affandi), serta beberapa karya pelukis lainnya. Sketsa buatan Affandi juga ditampilkan di galeri ini. Selain karya lukisan, ada juga sepeda ontel tua yang dulu sering digunakan Affandi untuk berkeliling. Lo juga dapat menyaksikan pemutaran video tentang bagaimana proses kreatif Affandi ketika membuat sebuah lukisan. Inspiring banget!

Setelah puas berkeliling museum, pengunjung dapat singgah sejenak melepas lelah di kafe loteng. Kafe berlantai dua ini dulunya adalah rumah tinggal Affandi. Lantai satu dijadikan teras rumah tempat Affandi berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga, sedangkan lantai 2 adalah kamar tidur Affandi.

Cafe loteng ini dulunya adalah rumah tinggal Affandi

Rani, salah satu pengunjung museum mengaku penasaran untuk datang ke museum Affandi karena ingin melihat seperti apa kehidupan sang maestro yang karyanya banyak diminati berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan desain interior ini juga mengaku terkesan dengan gaya bangunan museum yang unik.

"Siapa sih yang nggak kenal Affandi? Karya-karya lukisannya digemari semua orang, termasuk saya. Buat saya, yang paling ikonik dari museum ini adalah bangunannya yang didesain seperti pelepah daun pisang. Menurut saya, ide arsitek buatan Affandi bukan cuma unik, tapi sarat dengan makna kehidupan di dalamnya," ujar mahasiswi asal Jakarta tersebut.

Yuk, Urbaners. Luangkan waktumu untuk berjalan-jalan dan mengintip perjalanan hidup sang maestro seni di Museum Affandi! Pasti banyak pengetahuan baru yang bakal lo dapetin. Biar nggak ketinggalan info, pantengin juga update-nya di Instagram @museumaffandi, ya!