Seribu Satu Cerita dari Lensa Kamera Feri Latief

Berawal dari hobi dan modal meminjam kamera teman semasa SMA, Feri Latief mengasah kemampuan fotografinya secara otodidak. Sempat mengecap pendidikan di Institut Teknologi Nasional dengan jurusan Arsitektur, Feri justru lebih dikenal sebagai fotografer freelance untuk media-media asing seperti National Geographic dan Reuters.

Setelah lebih dari satu dekade berkarir sebagai fotografer jurnalistik, kini Feri dikenal lewat jepretan-jepretannya yang bercerita. “Untuk menghasilkan foto yang bercerita, gue mempraktikkannya lewat teori yang gue pelajari sebelumnya, kemudian melakukan riset, dan membuka mata hati supaya jiwa dari subjek yang difoto memancar,” akunya. Yuk, kenalan lebih dekat dengan Feri Latief dan simak proses kreatifnya menciptakan karya-karya yang menggugah!

 

Awal Mula Jatuh Cinta dengan Fotografi

“Fotografi membuat gue merasa kaya, karena gue bisa bertemu hal-hal baru, orang-orang baru, dan cerita-cerita yang berbeda,” demikian pengakuan Feri. Dia menambahkan kalau dirinya termasuk orang yang kepo dan selalu penasaran, sehingga hasrat untuk menggali banyak hal begitu menggebu.

“Lewat fotografi, gue bisa menyalurkan semua hasrat tersebut,” terang laki-laki yang mengikuti kursus fotografi pertamanya di Galeri Antara ini. Semenjak lulus dari jurusan teknik arsitektur, Feri mulai fokus mengejar karir sebagai fotografer lepas. Ia mengumpulkan pengalaman dengan menjadi kontributor untuk berbagai media, menjalankan penugasan dari Pemerintah Indonesia, dan juga sejumlah LSM internasional seperti UNESCO, WWF, dan Royal Academy London. Pada tahun 2004-2005, Feri dinobatkan menjadi lulusan terbaik World Press Photo Courses.

Selalu berhasil menangkap momen dan angle foto yang unik

Lewat fotografi jugalah, jiwa “bebas” Feri menemukan wadah. Ia bisa bertemu dengan banyak orang, yang nggak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperluas pikirannya untuk menerima perbedaan. “Gue jadi lebih bisa menghargai keberadaan seseorang sebagai human being. Dunia ini luas. Kenapa kita harus memaksakan apa yang menjadi pandangan kita ke orang lain?” cetusnya. Kesadaran inilah yang membuat Feri semakin yakin kalau path-nya memang di dunia fotografi.

Mengabarkan kepada dunia betapa beragamnya makhluk hidup, kedalaman dimensi kehidupan, serta begitu variatifnya imajinasi, membuat Feri merasa tertantang untuk menjadi sosok yang bermanfaat seluas-luasnya dengan cara membagi inspirasi lewat setiap jepretan.

 

Tentang Foto-Foto yang Bercerita

Karya foto Feri Latief terkenal bukan hanya karena komposisi yang bagus, tetapi juga karena foto-foto tersebut menyimpan cerita di baliknya. “Gue suka bertutur lewat foto. Gue tetap bikin single picture, tapi umumnya yang gue bikin adalah story. Jadi bukan hanya satu, tapi banyak gambar. Tapi biasanya kalau dari single photo saja sudah menjelaskan, maka narasinya bisa jauh lebih baik lagi,” terang Feri.

Salah satu hasil jepretan Feri yang berjudul “Lonely Wisdom”

Kegemarannya membuat foto yang bercerita disebabkan oleh unsur kepo yang ada di dalam dirinya. Ketika Feri merasa informasi baru yang ia peroleh itu menarik, ia punya keinginan untuk membagikannya kepada publik.

Bercerita mengenai proses pembuatan karya, Feri mengaku justru durasi dan proses terlama biasanya dilakukan untuk riset. Riset itu bentuknya macam-macam, termasuk salah satunya adalah mengobrol dengan orang-orang yang mengetahui mengenai subjek yang akan ia foto. Sebagai bagian penting dari proses kreatif, ia berprinsip untuk selalu menerima masukan dari orang lain dan berani mencoba hal-hal yang baru. “Jangan menutup diri untuk mendapatkan masukan dari siapapun, itu adalah salah satu prinsip gue dalam membuat suatu karya,” tambahnya lagi.

 

Bukan Hanya Memotret Fisik

Dalam menjalankan proyek foto-foto esai, Feri selalu berhasil menangkap esensi kehidupan dari masyarakat lokal yang dijepretnya. Nggak hanya menangkap fisik, tetapi lebih kepada jiwa dari objeknya. “Kemampuan mengobservasi itu penting, sehingga timbul empati dan bukan hanya simpati. Ketika yang timbul di hati lo adalah empati, maka lo bisa membuat foto-foto yang bisa bercerita tentang apa yang dilakukan orang itu,” jelasnya.

Pesan Feri, memotret jangan terlalu ambisius, karena ambisi bisa menghilangkan esensi dari apa yang hendak dijepret. Sebaliknya, Urbaners, kegiatan memotret itu harus dinikmati, dijalani, dan jangan ngoyo. Kalau lo hanya ingin supaya jepretan lo bagus dan keren, jepretan lo bakal kehilangan maknanya.

“Buat gue, fotografi adalah sesuatu yang spiritual. Jadi, gue menjalani juga sungguh-sungguh dan nggak mengejar apresiasi. Segala sesuatu yang dilakukan dengan hati akan bercerita, sehingga pesan yang ingin kita sampaikan juga bisa tersampaikan kepada publik,” ujar Feri.

 

Belajar dan Terus Berkarya

Feri Latief ketika sedang berburu foto

Perkembangan dunia fotografi di era teknologi saat ini bisa dibilang nggak terbendung lagi. Semua orang dengan handphone saja sudah bisa menjepret. Menurut Feri, kemudahan seperti ini harus diiringi dengan semangat untuk terus mencoba inovasi-inovasi baru. Jangan membatasi diri, jangan malu, dan teruslah memperkaya portfolio, terutama di sosial media.

Menyadari tingkat persaingan yang semakin tinggi, ada baiknya nggak memilih-milih kesempatan ataupun tema yang difoto. “Jangan hanya mengerjakan tema yang disukai, tapi cobalah menggarap hal-hal yang lo mungkin belum terlalu familiar. Siapa tahu, ternyata hal yang nggak lo sukai bisa jadi sesuatu yang lo sukai setelah lo berhasil menemukan celahnya,” tambah Feri.

Urbaners, ingin cari inspirasi dari karya-karya foto Feri Latief? Simak saja langsung di akun Instagram @feri_latief!