Terjebak Nostalgia Fotografi Analog Bersama Afdruk 56

Perkembangan era digital terus memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Di bidang fotografi misalnya, kegiatan jeprat-jepret semakin dimudahkan dengan kehadiran beragam perangkat canggih. Nggak sekadar memanfaatkan kamera profesional, bahkan perangkat seperti smartphone sekalipun kini sudah dilengkapi dengan fitur kamera yang mumpuni.

Namun demikian, gempuran era digital ternyata nggak menyurutkan kecintaan sebagian orang terhadap teknologi terdahulu. Nggak sedikit loh, Urbaners, orang yang masih senang mengulik fotografi analog. Malahan, mereka juga kerap bereksperimen dengan teknik cetak yang lebih lawas. Seperti komunitas Afdruk 56.

Afdruk 56 merupakan sebuah studio atau laboratorium cetak fotografi analog yang dikelola oleh kolektif seniman di Ruang MES 56, Yogyakarta. Pada masanya dulu, Afdruk memang sudah identik sebagai istilah Belanda untuk praktik cuci-cetak cepat yang dilakukan di dalam bilik kecil yang sering ada di pinggir jalan. Sedangkan untuk 56, angka tersebut diambil dari nomor rumah kontrakan lama Ruang MES 56.

FYI, ide untuk membentuk program Afdruk 56 sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi baru terealisasi pada bulan Juli 2017. Afdruk 56 terbentuk atas inisiatif Edwin ‘Dolly’ Roseno dan Danysswara ‘Gobi’. Seiring berjalannya waktu, keduanya dibantu pula oleh Anang Saptoto, Isidorus Shalom, dan Ventus sebagai pengurus inti.

Menurut Dolly, pergeseran ke arah ranah teknologi digital yang lebih praktis dalam mencetak foto menjadi salah satu latar belakang hadirnya Afdruk 56. Selain itu, Gobi menambahkan kalau Afdruk 56 ingin hadir untuk merespon tren fotografi analog yang belakangan kembali booming melalui program edukasi dan eksperimentasi.

 Booth pameran Afdruk 56 seperti took kelontong dengan triplek berwarna biru

 

Melestarikan Praktik Cuci-Cetak Roll Film Kamera Analog

Lebih lanjut, basically Afdruk 56 berupaya menjadi semacam ‘arkeolog visual’ dengan mengarsipkan artefak film negatif dari berbagai sumber yang bisa menjadi bagian dari sejarah fotografi Indonesia. Tepatnya, Afdruk 56 pun mendalami praktik mencetak di samping menyediakan jasa foto keliling. Kegiatan tersebut bermula dari kegemaran Dolly mencari roll film di pasar loak.

Siapa sangka, dari pencarian roll film, Afdruk 56 bisa memperoleh dokumentasi beragam kisah menarik. Misalnya saja saat mereka menemukan foto dengan objek satu keluarga dalam roll film yang berbeda atau potret desain properti di zamannya. Semua terangkum dalam proyek “Leftover Images”. “Hasil cetaknya masih kami simpan, menjadi arsip yang nantinya bisa dikaitkan ke berbagai ilmu seperti kebudayaan, antropologi, bahkan sejarah,” ujar Dolly.

Untuk program lainnya, Afdruk 56 rutin mengadakan workshop cetak fotografi analog untuk umum serta proyek-proyek seni fotografi analog yang masih berkaitan dengan cabang-cabang ilmu, seperti seni rupa, antropologi, sejarah, dan sosiologi. Buat ikutan workshop, biaya yang perlu lo keluarkan berkisar antara Rp150-700 ribu. “Biasanya kami diskusi tentang seni, fotografi, bikin seminar, workshop, dan pameran. Kami juga sering mengisi workshop dengan konten berbayar,” ungkap Anang.

Eits, tapi nggak usah khawatir buat lo yang nggak bisa datang langsung ke basecamp-nya Afdruk 56, Urbaners. Demi membagikan pengalaman fotografi analog ke masyarakat yang lebih luas, ada kalanya Afdruk 56 bakal keliling memboyong gerobak foto kilat mereka ke berbagai event. Di sana, lo bisa difotoin pakai kamera analog dan fotonya langsung dicetak di kamar gelap. Atau, lo bisa cuci mata lihat hasil perburuan Afdruk 56 di pasar loak sambil ngobrol-ngobrol lebih lanjut seputar prosesnya.

So far, Afdruk 56 pernah menjadi bagian dari serangkaian pameran dan festival. Mulai dari Bandung Photography Month, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2018, Tatto Merdeka 2018, Batik Biennale 2018, Pesta Boneka 2018 (International Puppet Biennale), ARTJOG MMXIX, sampai Pekan Fotografi Sewon 4 sudah mereka jajal.

Kalau untuk sekarang-sekarang ini, Afdruk 56 lagi disibukkan dengan penelitian tentang jasa cetak kilat jalanan di Yogyakarta yang sudah hilang. Lebih dari itu, mereka masih punya cita-cita besar untuk mengembangkan sistem digitalisasi atau metadata untuk arsip keluarga, lembaga, maupun kolektor.

Spot foto dari Afdruk dengan backdrop lukisan berwana hitam putih

Buat lo yang mau join Afdruk 56, nggak ada syarat khususnya kok, Urbaners. Selama lo masih suka seni kontemporer dan ikut di salah satu kegiatan komunitasnya, why not? Dari situ nantinya lo bisa ketemu anggota lain dari kalangan mahasiswa dan masih banyak lagi. Lo bakal terus di-update info seputar workshop mereka dan diajak buat ikutan event.

Sudah siap menjelajah dunia lewat fotografi analog, Urbaners? Biar lo lebih kebayang, tonton dulu obrolan kami selengkapnya bareng Dolly, Gobi, Anang, dan Isidorus di MLDSPOT TV Season 5 episode 12 dengan tema “Photography & Beyond”. Subscribe our YouTube Channel MLDSPOT TV, and get yourself inspired!