Trending

Match My Freak, Ketika Gen Z Terlalu Sibuk Nyari Pasangan yang Sefrekuensi

Lo pernah denger istilah ‘Match My Freak’ gak? Ini adalah salah satu standar baru di kalangan Gen Z dalam urusan relationship. Di mana mereka berusaha nyari pasangan yang setipe dengan dia.

Setipe yang dimaksud di sini bisa benar-benar detail loh. Gak cuma sebatas kesamaan hobi doang. Tapi bisa bener-bener yang spesifik ke cara berpikir, gaya ngobrol, sampai energinya juga harus mirip.

Emang kedengeran sulit. Nemu orang yang punya kesamaan cara berpikir dengan kemiripan mendekati 100 persen aja tuh kayak nyari jarum di tumpukan jerami. Tapi menariknya, ada alasan yang cukup oke di balik tren ini.

Fokus utamanya di sini adalah hubungan autentik. Mereka berusaha ngehindarin hubungan yang kelihatannya baik di permukaan doang. Makanya, tren ini banyak dijadikan sebagai patokan buat warga-wargi dalam mencari pasangan.

Berasal Dari Lagu dan TikTok

Jadi, tren ini sebenarnya bermula dari lagu musisi asal Amerika Serikat bernama Tinashe. Doi punya lagu berjudul “Nasty” yang sempat viral di media sosial khususnya TikTok. Nah, lagu itu punya penggalan lirik “is somebody gonna match my freak?”

Penggalan lagu itu kemudian ngetren di TikTok. Soalnya, banyak dipake sama jagat medsos sana. Karena jadi trend, gue ngeliatnya ada kecenderungan pembentukan standar relationship di warga-wargi.

Kita tau lah ya gimana “standar TikTok” menjamur di tengah-tengah kehidupan kita? Di mana norma sosial, gaya hidup sampai ekspektasi yang terbentuk dari video-video terdengar tidak realistis.

Nah, standar TikTok ini juga mencakup aspek relationship juga. Itulah kenapa tren match my freak ini membentuk ekspektasi soal hubungan yang dirasa paling best.

Mengejar Perfect Match

Kayak yang udah gue mention sebelumnya, tren ini nunjukin bahwa banyak orang pengen punya pasangan yang mendekati 100 persen mirip. Masalahnya di sini adalah perbedaan dikit doang bisa dianggap sebagai tanda gak cocok.

Cara pandang kayak gini tuh bisa bikin seseorang jadi sulit ngebangun hubungan yang tahan lama. Soalnya tiap orang tuh punya perbedaan karakter, kebiasaan, sampai cara buat menghadapi masalah.

Emang sih, punya pasangan yang sefrekuensi tuh terdengar nyaman banget. Di mana orang itu mungkin akan memahami semua hal yang ada di diri kita, bahkan sampai yang aneh-anehnya. Tapi kan, gak gampang nemu orang kayak gitu?

In the end, bisa nemu orang yang sefrekuensi sampai sedetail-detailnya itu emang seru dan nyenengin. Tapi, kalau ternyata gak ketemu pun, bukan berarti kita harus nutup diri dari possibility yang lainnya. Setuju gak, bro?